Minggu, 02 September 2012

PC PRANK | Software Super Jail Paling Lengkap

        
          Naah, kali ini saya akan share tentang Software super jail. Tetapi tidak sama dengan Software jail lainnya. Software ini mencangkup berbagai macam software-software jail lainnya dalam satu paket.
Sekarang mari kita bahas tentang PC Prank ini.

Berikut ini adalah berbagai fitur dari PC Prank ini:
  • Heavy Mouse : Membuat kursor PC kelebihan berat, jadi akan jatuh ke bawah terus
  • Virus : Membuat seperti terkena virus dan efeknya akan menformat hardisk (tapi cuman bohongan)
  • Big Mouse : membuat mouse ukurannya Super Besar
  • PC Still On : Akan ada peringatan PC Turn Off.
  • Mouse Clones : Memperanakkan mouse alias mouse akan menjadi banyak sekali.
  • Crazy Eight : Mouse bergoyang-goyang terus membentuk angka 8.
  • Strectchy Mouse : Mouse meski di olor-olor tetap balik ke posisi semula
  • Running Window : Ada pesan yang ketika akan di klik kabuuur terus
           Dan Masih banyak lagi.
Cara Instal PC Prank
  1. Klik link yang ada di akhir postingan
  2. Lalu tunggu 5 detik dan klik skip ads
  3. Setelah di Download, Extract File nya
  4. Selanjutnya buka folder PC Prank dan jalankan file Setup.exe kemudian Install seperti biasa.
  5. Sekarang jalankan PC Prank melalui Start Menu kemudian klik tombol Go To Prank Menu kemudian tombol Register dan langsung masukkan Serial yang ada dalam file download-an tadi agar bisa digunakan dengan Full.
  6. PC Prank siap digunakan untuk beraksi.
  7. Langkah selanjutnya adalah, anda tinggal memilih jenis Prank yang anda inginkan, kemudian klik Pull This Prank.
  8. Dan terakhir lihatlah hasilnya.
NB: Untuk kembali ke menu Prank tekan tombol ESC pada keyboard.


 Oh ya, jangan lupa Disable dulu Anti Virus anda jika ingin memakai software ini karena biasanya software model seperti ini akan dideteksi sebagai virus


Password Winrar : menzyntablog.blogspot.com

Rabu, 29 Agustus 2012

Link / Banner Exchange

Bagi Temen temen semuanya yang ingin bertukar link dengan saya maka silahkaan copy dan paste kan di blog anda

Link





Banner

Menzynta
Chyberart




Terima Kasih

Selasa, 28 Agustus 2012

Novel Inspiratif Yang Diangkat Menjadi Film

Banyak contoh novel inspiratif yang bisa kita nikmati saat ini. Berbagai macam contoh novel ini rupanya telah mengilhami para pembacanya untuk melakukan sebuah perubahan terhadap dirinya.
Tidak itu saja, novel-novel ini rupanya juga telah mencuri perhatian produser untuk diangkat ke layar kaca. Hasilnya tidak mengecewakan, kebanyakan novel-novel ini menjadi box office. Novel merupakan sebuah karya sastra yang berbentuk prosa, naratif, dan fiksi.
Novel seringkali menjadi sebuah hobi dan membuat banyak orang kecanduan utamanya remaja dewasa. Padahal novel merupakan cerita yang cukup panjang daripada cerpen.
Namun, hingga kini novel tetap merajai genre fiksi. Contoh novel yang telah menghebohkan dunia adalah Twilight, Harry Potter, Lords Of The Rings, The Cronicles of Narnia, dan lain-lain. 
Di Indonesia sendiri beberapa novel juga telah menjadi contoh novel yang layak diperbincangkan hingga diangkat ke layar lebar.
Film-film tersebut seperti edisinya yang best seller, saat diangkat ke dalam film pun ternyata merajai tangga box office tanah air. Beberapa contoh novel dalam negeri yang sukses di pasaran sekaligus merajai box office adalah sebagai berikut ini. 

Ayat-ayat Cinta

Boleh jadi Ayat-Ayat Cinta adalah film yang menjadi asal muasal diangkatnya novel Indonesia ke layar kaca.
Sebelum film Ayat-Ayat Cinta memang ada film-film lainnya yang juga diangkat dari sebuah novel misalnya Ronggeng Dukuh Paruk. Namun, di era 2000-an film ini begitu fenomenal walaupun kisah di film banyak membuat penggemar novelnya kecewa.
Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini, menjadikan film yang diangkat dari contoh novel inspiratif sedikit berbeda dengan apa yang ada di dalam novel. Beberapa alur cerita ditambah dan dikurangi sehingga membuat film ini tidak mirip dengan versi novelnya.
Ayat-Ayat Cinta adalah contoh novel Islami yang mendapatkan sambutan luar biasa di pasaran.
Beberapa artis yang mendukung film ini adalah Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, serta Melani Putria.
Film ini termasuk film religi, namun memang memerlukan beberapa catatan untuk membuatnya sempurna.
Hanung termasuk sutradara yang berani mengubah alur dan cerita Ayat-Ayat Cinta yang telah memiliki penggemar di pasaran.
Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel ini, termasuk dari orang yang kecewa dengan film ini. Namun, walaupun begitu film Ayat-Ayat , Cinta tetap saja merajai box office Indonesia.
Banyak penggemar novelnya yang menginginkan untuk melihatnya secara langsung di layar kaca. 
Ayat-Ayat Cinta adalah contoh novel Islami yang mendapatkan sambutan luar biasa di pasaran. Walaupun genre filmnya menuai banyak kritikan, toh film ini ternyata menjadi salah satu film box office yang sukses diangkat ke layar kaca.

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi menjadi contoh novel inspiratif, namun tetap dapat diterima oleh pembaca.

Bahkan novel ini telah menjadi novel terlaris sepanjang sejarah novel di Indonesia.

Laskar Pelangi merupakan contoh novel dengan genre yang melawan arus.

Di saat novel-novel lainnya bermunculan dengan cerita cinta, dan gemerlapnya kehidupan, Laskar Pelangi malah bercerita tentang kehidupan bersahaja namun penuh inspirasi dari sepuluh murid SD Muhammadiyah di Belitong.
Tidaklah mengherankan jika karya Andrea Hirata ini menjadi pusat perhatian. Novel Laskar Pelangi telah menjadi perbincangan banyak penggemar novel di Indonesia. 
Tidaklah mengherankan jika Riri Riza ingin mengangkatnya ke dalam film agar dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Film adaptasi dari novel Laskar Pelangi ini dirilis saat lebaran.
Film inipun merajai box officce Indonesia dan menjadi perbincangan banyak penggemar dan kritisi film.
Riri Riza telah berhasil menangkap gambaran bagaimana kondisi Laskar Pelangi saat itu. Laskar Pelangi menjadi film keempat sepanjang sejarah yang ditonton oleh 4,6 juta jiwa. 
Para artis yang tergabung dalam film ini adalah artis yang sudah lama malang melintang di dunia perfilman Indonesia seperti Ikranegara, Cut Mini, Lukman Sardi, Eros Djarot, dan Mathias Muchus. Untuk memerankan kesepuluh anak yang tergabung dalam Laskar Pelangi, Riri Riza dan Mira Lesmana melakukan casting di Belitong. 

Bacaan Shalat Delisha

Bacaan Shalat Delisa adalah novel karya Tere Liye. Salah satu contoh novel yang menginspirasi ini adalah novel yang sarat pesan moral. Mengisahkan tentang cerita di balik tragedi Tsunami pada tahun 26 Desember 2004 silam.
Novel ini menceritakan tentang kisah gadis kecil Delisa yang kehilangan keluarganya sekaligus mendapatkan ujian yang berat saat itu. Delisa merupakan anak bungsu dari pasangan Umi Salma dan Abi Usman. Menurut kebiasaan, siapa saja yang sudah dapat menghafalkan bacaan shalat maka akan mendapatkan kalung dari Umi Salma.
Delisa ingin sekali mendapatkan kalung tersebut, karena itu ia berjuang keras agar dapat lulus saat ujian bacaan shalat di sekolah nanti.
Pada tanggal 26 Desember Delisa akan menghadapi ujian bacaan shalat di sekolah. Dengan penuh semangat Delisa mengikuti ujian bacaan shalat, dan mengamalkan arti shalat khusyu’. Namun, sebuah peristiwa besar terjadi dan menenggelamkan seluruh Lok Nga.
Bacaan Shalat Delisa adalah contoh novel yang sarat dengan emosi. Siapa pun yang menyaksikan film ini akan tersentuh dengan ketegaran Delisa.
Bahkan para relawan luar negeri pun juga turut tersentuh dengan ketegaran Delisa saat kehilangan orang-orang tercinta, dan juga sebelah kakinya.
Film ini sukses mengantarkan genre religi sebagai pilihan film keluarga yang mendidik dan penuh makna.

Negeri 5 Menara

Emak Ingin Naik Haji
Salah satu contoh novel religi yang sukses diangkat ke layar lebar adalah novel karangan Asma Nadia, Emak Ingin Naik Haji.

Dibintangi oleh Reza Rahardian, dan Atty Cancer, Emak Ingin Naik Haji telah sukses mengantarkan genre religi ke dalam layar lebar.

Emak Ingin Naik Haji menceritakan tentang keinginan Emak (Atty Cancer) untuk menunaikan ibadah haji.

Walaupun memiliki keterbatasan kendala, karena kemiskinan yang membelitnya. Tapi, tekad kuat emak akhirnya meluluhkan hati sang anak (Reza Rahardian).

Dengan segala daya upaya sang anak akhirnya berupaya untuk mewujudkan keinginan sang emak.

Film Emak Ingin Naik Haji telah mencuri perhatian penonton Indonesia di antara tayangan yang kurang mendidik lainnya.

Contoh novel yang banyak menginspirasi dan diangkat ke layar lebar adalah novel Negeri Lima Menara.
Novel besutan Ahmad Fuadi ini berhasil menyegarkan genre novel di Indonesia yang terkadang jemu dengan  kisah cinta. 
Novel ini mengisahkan tentang kisah persahabatan enam orang sahabat yang berada dalam sebuah pesantren di Pulau Jawa.
Keenam sahabat ini memiliki keinginan dan cita-cita yang tinggi. Dengan “mantra” man jadda wa jada. Mereka berusaha untuk meraih cita-citanya.
 Keenam sahabat ini memiliki sebuah kebiasaan unik berkumpul di bawah menara masjid dan berdiskusi akan banyak hal. Mereka menamakan diri dengan “shahibul menara” atau para pemilik menara. 
Negeri Lima Menara juga sukses difilmkan oleh Kompas Gramedia. Dengan penulis skenario Salman Aristo, film ini menjadi pilihan tersendiri untuk siapa pun yang berkeinginan dalam meraih cita-cita dan mengejar impiannya setinggi langit.
Mengambil lokasi syuting di Pondok Modern Darussalam Gontor, film ini menghadirkan wajah-wajah baru yang memerankan keenam  sahabat tadi.
Selain itu, dukungan dari artis yang sudah mempunyai jam terbang tinggi juga dapat menjadi sebuah perpaduan yang khas diantara keduanya.  Syuting diawali dengan adegan ustad Salman (Donny Alamsyah) yang mengajarkan mahfudzat.
Kalimat yang dijadikan bahan pengajaran saat itu adalah man jadda wa jada. Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.
Dengan gaya yang khas ustad Salman menghentakkan keheningan kelas dengan teriakan “man jadda wa jada”. Seketika itu Alif tersentak dengan mantra ini.
Kalimat inilah yang kemudian menjadi ruh dalam alur cerita novel bergenre religi ini. Contoh novel inspiratif di atas semoga dapat mengilhami setiap penulis dan pembaca untuk menjadi lebih baik dan memiliki cita-cita mulia dalam hidupnya.



Sumber Artikel : Anneahira.com

Peran Latar dalam Karya Sastra

Banyak pembaca yang mungkin sudah mengetahui bahwa setting atau latar merupakan salah satu bagian dari sebuah karya sastra. Namun, tahukah Anda bagaimana peranan latar dalam sebuah karya sastra? Sebelum kita mulai bahasan tentang latar ini lebih dalam, penulis akan mengajak pembaca untuk mengingat kembali unsur-unsur pembentuk karya sastra secara umum.

Sekilas Tentang Unsur-Unsur Pembentuk Karya Sastra

Sebagaimana kita tahu, sebuah karya sastra dibentuk oleh berbagai unsur yang saling bergantung. Setidaknya terdapat dua unsur utama pembentuk karya sastra., yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur pembentuk karya sastra tadi memiliki bagian-bagian lain yang memiliki peran tersendiri. Berikut adalah penjelasan singkat dari bagian-bagian unsur pembentuk karya sastra.
1.    Unsur Intrinsik
Sebuah karya sastra tidak bisa dipisahkan dari yang namanya unsur intrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang secara langsung hadir atau muncul di dalam sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra akan jadi menarik jika setiap unsur di dalamnya memiliki keterkaitan sangat kuat. Lantas, apa sajakah yang termasuk ke dalam unsur intrinsik karya sastra? Berikut adalah penjelasan singkatnya.
  1. Tema. Tema merupakan gagasan atau ide sebuah karya sastra. Tema harus mampu menjiwai sebuah karya sastra karena tema inilah yang merupakan dasar penulisan sebuah karya sastra. Ada banyak tema yang bisa diangkat ke dalam karya sastra, seperti kisah asmara, pertikaian, dan sebagainya.
  2. Setting atau Latar. Setting atau latar merupakan unsur karya sastra yang mampu menunjukan di mana, kapan, dan bagaimana sebuah peristiwa dalam karya sastra itu berlangsung. Setidaknya terdapat tiga macam setting dalam sebuah karya sastra, yakni latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.
  3.  Alur atau Plot. Alur atau plot merupakan jalan cerita dalam sebuah karya sastra. Wujud alur dalam karya sastra biasanya berupa jalinan peristiwa atau sekuen yang memperlihatkan koherensi atau kepaduan tertentu. Kepaduan alur dalam sebuah karya sastra diwujudkan oleh hubungan tokoh, tema, sebab akibat, atau ketiganya. Setidaknya terdapat tiga jenis alur dalam karya sastra, yakni alur maju, alur mundur, dan alur campuran.
  4. Tokoh, Penokohan, dan Karakter. Tokoh merupakan sosok atau individu rekaan yang menjalankan seluruh peristiwa dalam sebuah karya sastra. Penokohan merupakan penyajian watak atau pencitraan yang ditunjukan oleh setiap tokoh. Sementara karakter adalah sifat yang diperankan oleh tokoh dalam karya sastra.
  5. Konflik. Konflik dalam sebuah karya sastra berarti permasalahan-permasalahan yang dimunculkan dalam sebuah cerita. Terdapat dua jenis konflik yang seringkali ditampilkan dalam sebuah karya sastra, yakni konflik batin dan konflik antarpelaku.
  6. Sudut Pandang atau Point of View. Sudut pandang merupakan penempatan pengarang atau posisi pengarang di dalam sebuah cerita yang dibuatnya. Ada tiga jenis sudut pandang yang bisa digunakan dalamsebuah karya sastra, yakni sudut pandang orang pertama (aku atau saya), sudut pandang orang kedua (menyebut nama), dan sudut pandang orang ketiga (dia atau ia).
  7. Gaya bahasa. Gaya bahasa dalam sebuah karya sastra merupakan cara khas yang digunakan pengarang dalam mengemukakan gagasan, pikiran, dan perasaan melalui pemilihan bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.
  8. Amanat. Amanat merupakan pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui sebuah karya atau cerita. Dalam sebuah karya sastra, pesan yang seringkali disampaikan pengarang di antaranya pesan moral, pesan agama, dan pesan sosial.
2.    Unsur Ekstrinsik
Selain unsur ekstrinsik, bagus tidaknya sebuah karya sastra ditentuka pula oleh unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik ini merupakan unsur-unsur yang turut memengaruhi karya sastra, tetapi tidak ditampilkan langsung ke dalam ceritanya. Unsur ekstrinsik karya sastra ini meliputi:
  1. Agama pengarang;
  2. Pendidikan pengarang;
  3. Ekonomi pengarang;
  4. Lingkungan tempat tingal pengarang; dan
  5. Kejadian yang terjadi di lingkungan pengarang.
Nah, itulah sekilas penjelasan mengenai unsur pembentuk karya sastra. Selanjutnya kita akan memasuki pembahasan yang lebih terperinci tentang salah satu unsur karya sastra , yakni tentang setting. Yang jadi pertanyaan kemusian adalah, apa sebenarnya peran setting atau latar dalam sebuah karya sastra hingga memerlukan bahasan khusus?
Tanpa banyak basa-basi lagi, penulis akan langsung menyajikan pembahasan tentang setting atau latar  ini guna mengurangi rasa penasaran pembaca. Pembahasan tentang latar ini meliputi hakikat, peran, dan jenis-jenis latar yang mungkin belum diketahui pembaca.

Hakikat Setting dalam Karya Sastra

Ketika berhadapan dengan sebuah karya sastra (fiksi), pada hakikatnya kita sedang berhadapan dengan sebuah dunia. Ya, dunia yang serba mungkin, dunia yang dihuni oleh tokoh, lengkap dengan permasalahannya. Namun, tokoh dalam dunia serba mungkin ini tentunya memerlukan sebuah ruang lingkup berupa waktu, tempat, dan lingkungan lain seperti halnya manusia yang hidup di dunia nyata. Dalam sebuah karya fiksi ruang lingkup ini kemudian dikenal dengan sebutan setting atau latar.
Mengutip pendapat Abram (1981: 175), setting atau latar yang disebut juga sebagai landas tumpu, lebih menyiratkan kepada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Oleh Stanton (1965), latar bersama dengan tokoh dan alur dikelompokkan ke dalam fakta atau cerita. Alasannya tentu saja karena ketiga hal inilah yang akan dihadapi dan diimajinasi oleh pembaca cerita fiksi. Tokoh, alur, dan setting menjadi sangat penting dalam karya sastra karena ketiganyalah yang membentuk cerita secara langsung.

Unsur-unsur Setting atau Latar

Seperti yang sudah diulas secara sekilas tadi, secara umum latar dibagi ke dalam tiga bagian yakni, latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Namun, masih ada dua jenis latar yang sepertinya belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Kedua jenis setting atau latar yang dimaksud adalah latar alat dan anakronisme.
Pada bahasan kali ini, rasanya penulis tidak perlu lagi membahas tiga jenis latar yang sudah diketahui oleh khalayak umum. Apalagi, penjelasan ketiga setting atau latar ini sudah sedikit diulas di atas. Dalam bahasan ini, penulis hanya akan menambahkan dua jenis latar yang belum banyak diketahui masyarakat yang sudah disebutkan tadi. Seperti apa gambaran mengenai kedua jenis latar ini? Berikut pembahasannya.
1.    Latar Alat
Latar alat ialah benda-benda yang digunakan tokoh dalam sebuah karya sastra. Latar tempat biasanya memiliki hubungan langsung dengan suatu lingkungan kehidupan tokoh. Misalnya, buku, pena, buku, laptop, dan KTM merupakan alat-alat yang khas dimiliki mahasiswa. Bisa juga alat-alat seperti sampan, jala, pancing, dan alat-alat lain yang dimiliki oleh nelayan.
2.     Anakronisme
Mungkin banyak di antara pembaca yang asing dengan istilah anakronisme. Padahal, istilah ini tergolong ke dalam unsur setting atau latar dalam karya sastra. Memang, banyak yang tidak mengetahui hal ini mengingat pembaca pada umumnya sudah terpatri oleh pemahaman lama yang hanya menganggap hanya ada 3 jenis setting atau latar dalam karya sastra.
Latar anakronisme ini merupakan gambaran ketidaksesuaian urutan perkembangan waktu dalam sebuah cerita, seperti ketidaksesuaian antara waktu cerita dengan waktu sejarah. Penyebab utama hadirnya anakronisme ini biasanya berupa pemasukkan “waktu” tempo dulu ke dalam cerita yang berlatar modern atau sebaliknya.
Meski jarang terjadi, namun hal ini bisa saja ditemui dalam sebuah karya satra. Misal, hadirnya naga dalam kisah saat ini, atau contoh lainnya berupa penggunaan senjata api, ketika menceritakan kisah kerajaan, dan lain-lain.
Nah, itulah pembahasan mengenai unsur pembentuk karya sastra dan peran setting atau latar dalam karya sastra. Semoga dengan pembahasan ini, pengetahuan Anda semakin bertambah.